:
  • SELALU TERCEPAT DAN SELALU MEMAHAMI

    SELECT YOUR LANGUAGE


    Powered By Google Translate

    Dia Adalah “Si Pengganggu” Dari Timur Dan Penggagas Pan-Islamisme !


    Foto Oleh : hidayatullah.com

    Seorang manusia langka yang mampu menggelegarkan dunia Timur agar bangun dari tidurnya yang panjang, dialah Djamalauddin al-Afghani. Seorang yang gigih mengembara ke berbagai belahan dunia, hanya untuk mengobarkan bibit persatuan Islam, yang bagi sebagian orang hal ini menjadi sebuah ancaman. Tak jarang, semasa hidupnya, ia diperlakukan bak hama dan penyakit, baik oleh penjajah kolonial ataupun penguasa muslim sendiri. Ia dianggap pengganggu dan pembuat onar.

    Djamaluddin tumbuh di masa keputusasaan yang amat menyedihkan. Saat itu dinasti Islam secara keseluruhan tampak seperti orang yang berpenyakit akut. Kemunduran, stagnansi, dan penjajahan beserta belenggu yang ada di dalamnya telah membelit setiap orang. Penjajah kolonial, dengan bermodalkan senjata dan keilmuan modern telah bertindak sewenang-wenang dalam menebarkan kejahatan, maksiat dan eksploitasi. Bukan hanya sumber daya alam yang diperas, akan tetapi ajaran Islam itu sendiri yang jadi sasaran.

    Islam dipojokkan sebagai ajaran yang konservatif, beku dan sempit. Ajaran ini dituding sebagai akar kemunduran dan degradasi. Mereka kemudian menawarkan sebuah terobosan dengan nama westernisasi berikut gaya hidup yang tercipta di era Renaisscance, serta memperkenalkan teknologi-teknologi yang telah dijangkau oleh ilmuwan-ilmuwan di Barat.

    Kebodohan yang menggurita menjadikan kaum muslimin semakin putus asa. Akibatnya, kaum muslimin kian ragu hatinya terhadap ajaran Islam itu sendiri. Di masa yang penuh keputusasaan inilah seorang Djamaluddin lahir. Namun ia tidak mau bersikap membebek menurut kepada kebanyakan kaum muslimin saat itu. Ia pelajari pelan-pelan seluk beluk zamannya. Ia lalu berpendapat bahwa Islam bebas dari tuduhan-tuduhan yang disematkan oleh Barat.

    “Sangat memalukan saat mereka (kaum Muslimin.red) menyatakan diri sebagai pemeluk ajaran Islam namun mengkhianati semua perintah dan larangan-Nya,” ujarnya.

    Djamaluddin al-Afghani hadir di tengah rimba kegelapan, ia meneguhkan tekad untuk berjuang keras menghidupkan negeri yang mati dan menyuburkan tanah yang kering kerontang. Ia adalah manusia langka. Segenap penjuru alam, berbagai belahan dunia yang mengenal dirinya, akan merasakan pancaran jiwa seorang Djamaluddin. Timur dan Barat, tanpa lelah ia jelajahi satu per satu.

    Persatuan Haji

    Haji merupakan fenomena yang membuktikan kebenaran dari Al-Qur’an itu sendiri. Allah menegaskan bahwa bangunan sederhana yang ada di Makkah akan mampu menarik jutaan hati manusia untuk berduyun-duyun mendatanginya. Sebagaimana dalam firman-Nya:

    "Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh." (QS. 22:27)

    Segenap kaum muslimin pun tergerak dan berdatangan ke tanah Makkah itu. Tak terkecuali sosok Djamaluddin al-Afghani. Momentum haji inilah yang menjadi sarana bertemunya segala jenis manusia tanpa melihat perbedaan yang melekat pada dirinya. Semua bersatu pada kesatuan harmoni ritual ibadah, dalam balutan pakaian yang sama, mengitari Ka’bah yang satu. Semua dilakukan dengan ikhlas dan suci hati, lillahi ta’ala.

    Ibadah Haji dengan segala keutamaan di dalamnya akhirnya dipilih oleh Djamaluddin untuk membangkitkan spirit perjuangan mengembalikan kejayaan Islam ke segenap penjuru. Ia mulai membangun komunitas persatuan haji. Ide-idenya tentang pembaharuan Islam mulai tersebar saat itu. Agaknya ia tahu bahwa ketika kaum muslimin ini betul-betul menjalankan ibadah haji dengan keimanan yang mendalam, mereka akan lebih mudah tersadarkan dan tersentuh hatinya. Di sinilah Djamaluddin menggambarkan keadaan dan kondisi umat Islam yang tampak begitu menyedihkan, terbelakang dan terpuruk.

    Semangat dari haji ini kemudian mendorong pemikiran Djamaluddin ke arah yang lebih jauh, yakni politik dan kekuasaan Islam. Menurutnya Islam dan politik memiliki keterkaitan erat sebagai bagian dari kewajiban seorang Muslim dalam menjalankan syari’atnya secara kaffah. Penjajahan di dunia Islam begitu menyita perhatiannya. Ia menilai institusi kekhilafahan (Turki-Utsmani) telah jauh mengalami kemunduran secara perlahan namun pasti.

    Ia berpendapat bahwa yang menjadi persoalan saat ini adalah konsep pemerintahan absolut yang diusung kekhilafahan. Konsep monarki absolut betul-betul rapuh kenyataannya. Ia mudah terbelenggu politik, terprovokasi lalu terpecah belah. Djamaluddin menawarkan sesuatu yang cukup revolusioner bagi sultan Utsmani saat itu, konsep Jumhuriyah, atau secara istilah dekat dengan istilah “Republik”. Tentu saja Republik yang dimaksud berbeda dengan yang dibawa oleh filsuf bernama Plato.

    Di dalam “Republik” versi Djamaluddin, seseorang dapat menyalurkan pendapatnya dengan jaminan kesamaan statusnya di hadapan hukum dan pemerintahan. Apa yang hendak diagendakan seorang Djamaluddin adalah prinsip syura dan ijma’. Dua padanan kata yang nantinya ia sempurnakan ketika merambah ke berbagai belahan dunia.

    India

    India sebenarnya bukanlah tempat yang asing bagi Djamaluddin. Ia pernah belajar di sini sewaktu kanak-kanak. Dan ketika ia kembali untuk menyusun rencana strategi anti-Barat, ia lucuti satu per satu “pakaian” para penjajah yang menyembunyikan kehinaan. Langkah-langkah politiknya membuat orang-orang Inggris di India gerah. Mereka ingin segera mengusir singa itu, si pembuat onar, Djamaluddin.

    Suatu saat Djamaluddin berbicara kepada seorang wakil negara Inggris, “Sungguh, tindakan intimidasi pemerintah Inggris terhadap turis yang terusir seperti aku ini menggambarkan rendahnya cita-cita mereka, lemahnya kekuatan mereka, minimnya rasa keadilan mereka, dan tidak amannya posisi mereka. Meskipun kenyataannya mereka berkuasa atas negeri ini, namun mereka justru lebih lemah daripada negeri-negeri yang mereka kuasai.”

    Djamaluddin kemudian mengeraskan suaranya dengan lebih lantang, “Wahai penduduk India! Demi kebenaran yang mulia dan keadilan yang luhur, seandainya kalian semua dianggap oleh mereka sebagai ratusan juta lalat, niscaya dengungan kalian dapat memekakkan telinga orang-orang Inggris Raya. Seandainya kalian berjumlah ratusan juta. Lalu Allah salin rupa kalian semua dan masing-masingnya Allah jadikan kura-kura, kemudian kalian berenang di lautan dan kalian rambah semua kepulauan Inggris, niscaya kalian mampu menarik kepulauan itu ke dasar lautan dan kalian pulang ke negeri kalian dalam keadaan merdeka!”
    Ia lalu meninggalkan bara api yang berkobar yang akhirnya menjadi terusir dari India.

    Afghanistan dan Asia Kecil

    Di sini mulanya Djamaluddin diupah untuk mengajar putra sulung Raja Afghanistan. Kesempatan ini ia manfaatkan untuk merumuskan konsep revolusioner tentang reformasi dan modernisasi Islam sebagai cara untuk menghimpun kekuatan kaum Muslimin.

    Namun sayangnya, sepupu anak Raja dengan dukungan Inggris menggulingkan pemerintahan di Afghanistan. Lagi-lagi, Djamaluddin harus angkat kaki. Ia adalah sosok pengganggu bagi Inggris.

    Suatu saat, Djamaluddin mulai menyampaikan pidato di Universitas Konstantinopel. Ia menyatakan bahwa Umat Islam perlu belajar tentang semua ilmu pengetahuan modern, tetapi pada saat yang sama, mendidik anak-anak mereka secara lebih tegas dalam nilai-nilai, tradisi dan sejarah Islam. Modernisasi dalam pandangan Djamaluddin tidak harus berarti westernisasi. Kaum muslimin bisa mencari bahan modernisasi yang khas dalam Islam itu sendiri, tidak harus berbau barat. Pesan ini diterima baik oleh hampir seluruh kalangan. Ia kini memiliki reputasi dan jabatan yang cukup berkelas di Turki Utsmani.

    Namun, usahanya di sini tidak mendapatkan tanggapan positif dari ulama-ulama ortodoks di sana. Tindakan Djamaluddin dianggap merendahkan martabat mereka. Dan lagi-lagi, Djamaluddin harus angkat kaki.

    Menuju Mesir

    Di sini Djamaluddin mengajar di kelas-kelas, memberikan kuliah di Universitas al-Azhar. Tetap, ia bersikukuh dengan visinya tentang modernisasi Islam. Ia pun tak segan mengkritik rezim di sana, ia mengatakan bahwa, penguasa negara itu haruslah hidup dalam kesederhanaan, hidup di tengah-tengah rakyat, sebagaimana yang dilakukan khulafaurrasyidin. Di sini pula ia menyempurnakan konsep Jumhuriyah dengan dua padanan Syura dan Ijma.

    Syura yang Djamaluddin maksud artinya adalah semacam mekanisme yang melaluinya pemimpin muslim meminta saran dan persetujuan dari masyarakat. Sementara Ijma berarti “konsensus”. Konsep ini bersumber dari perkataan Nabi: “Umatku tidak akan pernah bersepakat pada suatu kesalahan.” Para ulama menggunakan ucapan ini sebagai pembenaran untuk menyatakan bahwa ketika mereka sepakat tentang sesuatu yang fundamental, hal itu tidak perlu dipertanyakan lagi.

    Dari syura dan Ijma ini, Djamaluddin mengemukakan bahwa para penguasa tidak akan memiliki legitimasi tanpa dukungan rakyat mereka. Dan hal ini tentu saja membuat penguasa setempat gerah. Ia dicekal secara perlahan dan pada tahun 1879 ia benar-benar terusir. Lagi, ia harus pergi, dan kali ini tujuannya eropa.

    Paris

    Di kota inilah mulai disematkan istilah Pan-Islamisme oleh Barat ke dalam diri Djamaluddin al-Afghani. Di sini ia banyak menulis berbagai artikel yang terpublikasi dalam bahasa Inggris, Persia, Arab, Urdu dan Perancis. Salah satu jurnal yang cukup menjadi fenomenal adalah al-Urwah al-Wutsqa, yang dikelola oleh murid Djamaluddin yakni Muhammad Abduh.

    Di dalam jurnal itu, Djamaluddin menyatakan bahwa semua yang tampak sebagai beragam perjuangan lokal antara muslim dan negara-negara Eropa atas berbagai persoalan yang khusus: antara Iran dan Rusia mengenai Azerbaijan, antara Yunani dan Utsmani, antara Inggris dan Mesir mengenai pinjaman Bank, dll., sebenarnya bukanlah peperangan yang berbeda-beda mengenai masalah yang berbeda melainkan gambaran satu perjuangan besar antara dua entitas: Islam dan Barat.

    Setelah jurnalnya ditutup, ia sempat mampir di Amerika, kemudian London, saat ia berdebat dengan ayah dari Winston Churchil tentang kebijakan Inggris di Mesir. Uzbekistan, tempat ia mulai menerjemahkan al-Qur‟an atas izin Tsar yang kemudian malah membangkitkan semangat Islam, kemudian Iran, tempat dia mereformasi peradilan dan menyerukan pemboikotan tembakau yang jelas ini membawanya kembali berurusan dengan ulama dan penguasa setempat, dan terakhir adalah Utsmani.

    Istanbul

    Sultan Hamid berpandangan bahwa ide Djamaluddin tentu akan memberinya semacam dividen politik. Ia kembali mengajar, menulis, berpidato. Ia mengatakan kepada orang-orang yang berdatangan kepadanya dalam rangka mencari ilmu: bahwa “ijtihad” adalah prinsip utama Islam; akan tetapi berijtihad harus berangkat dari prinsip-prinsip yang mengakar pada al-Qur‟an dan hadits. Setiap muslim memiliki hak atas interpretasinya sendiri terhadap kitab suci dan wahyu, TAPI Umat Islam sebagai sebuah komunitas harus melatih diri mereka sendiri untuk memahami prinsip-prinsip pertama yang tertanam dalam wahyu itu.

    Kesalahan besar Umat Islam, kata Djamaluddin, adalah karena mereka berpaling dari ilmu pengetahuan Barat sembari merangkul pendidikan dan adat istiadatnya. Yang seharusnya mereka lakukan adalah mereka harus merangkul sains Barat tetapi menutup gerbang mereka bagi adat istiadat sosial dan sistem pendidikan Barat.

    Sultan Hamid tahu apa yang merisaukan Djamaluddin. Ia sediakan banyak fasilitas bagi seorang singa yang sedang kelaparan itu. Dengan tegas Djamaluddin mengatakan bahwa pemerintahan haruslah diubah dan konsep syura harus dijadikan dasar.

    Sultan pun naik pitam. Ia menyampaikan sebuah pesan, “Penghormatan sultan kepadamu belum pernah ada tandingannya. Namun hari ini kami melihatmu menceramahinya dengan logat bahasa yang asing, sementara kamu sendiri memain-mainkan tasbih di depannya.”
    Dengan tutur kata tajam, Djamaluddin menjawab, “Subhanallah!! Sungguh, sultan bisa memainkan peran menundukkan jutaan rakyat untuk mengikuti kehendaknya tanpa ada satu orang pun di antara mereka yang berani menyanggah perintahnya. Lalu apakah Djamaluddin tidak berhak untuk memainkan tasbihnya kapanpun dia mau?”

    Dialog itu pun berakhir dengan kematian Djamaluddin. Penyakit kanker mulut mendera dirinya. Ia pun pergi meninggalkan dunia yang fana ini. Auman singa yang senantiasa kelaparan itu tak terdengar lagi, namun ide dan spirit pan-Islamis tetap terasa membara hingga hari ini.

    Bahkan hingga melahirkan generasi-generasi berikutnya, seperti Hasan al-Bana yang mendirikan Al Ikhwan al Muslimun di Mesir.



    Sumber : hidayatullah.com


    0 komentar:

    Posting Komentar