:
  • SELALU TERCEPAT DAN SELALU MEMAHAMI

    SELECT YOUR LANGUAGE


    Powered By Google Translate

    Spiritual : Berjalanlah ke Segala Penjuru !



    Sri Kusnaeni, S. TP. ME.I
    Sri Kusnaeni, S. TP. ME.I
    Oleh: Sri Kusnaeni, S. TP. ME.I

    Perjalanan/safar akan menguliti seseorang, demikian kata hikmah yang disampaikan oleh sahabat Rasul SAW, Umar bin Khattab RA. Jangan engkau merasa bahwa engkau telah mengenal saudaramu dengan baik, jika engkau belum pernah melakukan safar/perjalanan bersama saudaramu tersebut, atau sebelum engkau pernah bermalam bersama saudaramu. Perjalanan panjang/safar, akan memiliki banyak hikmah dalam ukhuwah dan kehidupan. Di sini kita bisa menguji, siapa diri kita sebenarnya, dan siapa dan bagaimana saudara kita yang sebenarnya.

    Safar juga akan mengasah kepekaan kita, melatih jiwa kepemimpinan, membuka cakrawala berfikir, meluaskan pandangan, menambah wawasan, menghadirkan kecintaan pada saudara dan keluarga, menambah keimanan dan makin merasakan besarnya kekuasaan Allah SWT. Lakukanlah perjalanan, niatkan semua untuk mendapatkan hikmah kebaikan. Bukan sekadar berjalan/bepergian, bukan sekadar melancong, bukan sekadar piknik, bukan sekadar keliling, tapi safar dalam makna fantasiruu fil ardhi, sebagaimana diperintahkan oleh Allah SWT (QS 62:10, QS 30: 9,42)
    ilustrasi
    Mari kita coba kupas hikmah safar/perjalanan

    1. Evaluasi Akhlak Diri
    Bisikan-bisikan hati nurani untuk melakukan kebaikan terhadap saudara, akan sering muncul selama proses perjalanan. Misalnya, di saat kita merasa berat mengangkut koper dan barang bawaan sendiri, hati nurani akan berkata: “bawakan juga tas milik saudaramu, sepertinya dia lebih repot dibandingkan dirimu.” Saat waktunya makan, akan terlintas pikiran agar mentraktir teman dan rombongan. Saat di jalan kendaraan mengalami kendala, ini semua akan menjadi sarana untuk menilai, siapa diri kita sebenarnya.

    Apakah kita sudah memiliki akhlak baik yang kokoh (matinul khuluq), atau sebenarnya kebaikan dan akhlak kita masih belum stabil, masih sering muncul egoisme dan kekikiran diri. Orang yang sudah memiliki akhlak yang kokoh, tak akan pernah menyiakan peluang berbuat baik kepada orang lain, sekecil apapun. Semangatnya adalah semangat memberi, membantu, melayani, membahagiakan orang lain, bukan sebaliknya, ingin dibantu, ingin dilayani, ingin dihormati, ingin diberi. Dan cukuplah hadits Rasul SAW menjadi pengingat buat kita, alyadul ulya khairun mina yadu sufla. “Tangan yang di atas lebih baik dari pada tangan yang diberi”. Maka. Ujilah kekokohan akhlak kita lewat safar.

    2. Mengenal Saudara Lebih Dekat
    Kebersamaan yang cukup lama selama safar/perjalanan, memungkinkan kita untuk mengenal saudara kita dekat, lebih alami tanpa dibuat-dibuat, mengenal wataknya, kepribadiannya, kebiasaan sehari-harinya, dan mengenal kesukaannya (makanannya, warna kesukaannya, irama dan pola hidupnya, dll) secara langsung. Apa yang menjadi kebiasaan saudara kita sehari-hari, secara alamiah akan tampak dalam perjalanan. Misalnya, orang yang selama ini terbiasa pola hidupnya bersih, maka sepanjang perjalanan pun akan otomatis menunjukkan pola hidup bersih.

    Seseorang yang terbiasa panik dalam menghadapi masalah, hal ini pun akan tampak secara otomatis dalam safar. Siapa yang suka bercanda, dalam safar pun akan terlihat secara alami. Orang yang pemurah juga akan gampang terlihat aslinya dalam safar. Demikian juga dengan makanan kesukaan, warna kesukaan dan kebiasaan komunikasi dan hal-hal lain akan tersingkap/terkuliti dalam safar

    3. Makin Mengagumi Kekuasaan Allah
    Kami akan tunjukkan kepada mereka tanda-tanda kebesaran Kami, di segenap penjuru dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa Al-Quran ini adalah benar. Tidak cukupkah bagi kamu bahwa Tuhanmu menjadi saksi atas segala sesuatu (Q.S Fushillat 53).

    Dalam safar, banyak sekali tanda-tanda kekuasaan Allah yang dapat kita renungkan. Manusia dengan beragam jenis, bahasa, selera, raut muka, dan sebagainya. Siapakah yang mengatur itu semua? Bayangkan… baru dalam jarak antar kota saja, kita sudah mendapatkan perbedaan bahasa, perbedaan dialek, perbedaan selera masakan, perbedaan fisik, dan perbedaan budaya. Misalnya ketemu orang di Jogjakarta, dengan ketemu orang di Surabaya, kita sudah menemukan variasi selera masakan. Orang Jogja senang dengan gudegnya yang cenderung manis, orang Surabaya dengan rujak cingurnya. Padahal masih sama-sama pulau Jawa, antara penduduk di kedua kota tersebut, meskipun sama-sama berbahasa Jawa, tetapi dialek mereka berbeda. Apalagi jika kita lebarkan safar kita sampai ke pulau lain. Ke Kalimantan misalnya. Kita akan mendapatkan kembali keragaman dalam banyak hal, yang tentu berbeda dengan apa yang kita temui dengan di kota Jogjakarta atau Surabaya.

    Tentu akan sangat mudah juga dipahami, jika kemudian area safar kita makin jauh, antar negara, antar benua. Betapa banyak tanda-tanda kekuasaan Allah yang bisa disaksikan dari jarak yang paling dekat, masih seputar pada diri kita sebagai manusia. Orang Indonesia ketika datang ke Turki misalnya, akan merasakan “aneh” dengan rasa masakan orang Turki, padahal bagi orang Turki, tentulah masakan mereka adalah yang paling lezat. Sebaliknya jika misalnya orang Turki datang ke Indonesia, mungkin juga merasakan “aneh” ketika mencicipi makanan Indonesia.

    Demikianlah. Coba kita renungkan, siapa yang telah mengatur sedemikian rupa sehingga tiap suku, tiap bangsa, tiap kota, memiliki hal-hal yang khas dan unik. Siapa yang mengatur dan menjadikan ini semua??? Subhanallah. Maha Suci Allah, ucapan yang tak bosan kita panjatkan ketika menyaksikan betapa hebatnya kekuasaan Allah SWT. Belum lagi jika merenung kekuasaan yang nampak di ufuk/alam semesta, pastilah akan makin mengokohkan kekaguman kita pada kekuasaan Allah SWT.

    4. Makin Menghargai Keberadaan dan Arti Penting Keluarga
    Rutinitas dalam kehidupan rumah tangga, kadang memerlukan adanya variasi kegiatan. Hal ini untuk menghindari kejenuhan dengan adanya kegiatan yang monoton. Salah satu alternatif kegiatan yang cukup efektif untuk menyegarkan kembali jiwa dan perasaan adalah dengan melakukan safar. Saat seseorang jauh dari keluarga, saat itu secara alamiah akan memunculkan kerinduan yang mendalam terhadap seluruh anggota keluarga. Perasaan semacam ini adalah karunia yang harus kita syukuri, hal ini makin menyadarkan kita, betapa berartinya keluarga dalam kehidupan kita.

    Kebahagiaan berkumpul bersama seluruh anggota keluarga, adalah hal fitrah yang melekat pada setiap insan yang bersih nuraninya, karena berkeluarga adalah insting fitrah, karunia Allah SWT. Demikianlah, perjalanan juga menghadirkan pada diri kita, rasa syukur atas karunia hidup dalam kehangatan keluarga.

    5. Menyaksikan Dampak dari Perbuatan Manusia Sebelumnya
    Perjalanan menuju tempat-tempat bersejarah, tempat yang berhubungan dengan momentum-momentum penting dalam kehidupan manusia di masa lampau, sangat bermanfaat untuk menghadirkan inspirasi bagi seseorang, sekaligus untuk memotivasi dan mengambil pelajaran dari kehidupan manusia di masa lampau. Akan terlihat bagaimana dampak dari sebuah amal/aktivitas yang dilakukan oleh para pendahulu kita. Kadang kita belajar untuk meniru, karena apa yang kita saksikan adalah dampak kebaikan, tapi kadangkala kita belajar untuk tidak mencontoh suatu hal, karena dampak yang kita lihat adalah kerusakan. Sesungguhnya Allah telah menghadirkan banyak peringatan dalam setiap momentum dan fragmen sejarah yang kita saksikan.

    Begitu banyak hikmah yang dapat dipetik dengan aktivitas safar/bepergian, jika kita meniatkan semua dalam rangka mencari karunia dan keridhaan Allah SWT. Fantasiruu fil Ardh…


    Sumber : dakwatuna.com



    0 komentar:

    Posting Komentar