:
  • SELALU TERCEPAT DAN SELALU MEMAHAMI

    SELECT YOUR LANGUAGE


    Powered By Google Translate

    Kisah Aisyah, Sungguh Perempuan Yang Sangat Mulia ! [1]


    ilustrasi
    Protes Aisyah kepada Firaun atas penyiksaan keji yang menimpa Masyitoh telah membuatnya dihukum mati.

    Raja Ramses II boleh berpikir dia adalah penguasa dunia. Ia mengklaim dirinya seorang raja paling berkuasa di muka bumi, seorang raja paling hebat sepanjang sejarah Mesir yang dijuluki Ramses The Great, seorang firaun yang telah membangun berbagai monumen dan proyek raksasa. 

    Namun, atas segala kesombongannya itu, Ramses ternyata tidak mampu menguasai hati seorang perempuan bernama Aisyah binti Muzahim. 

    Sejak awal, Ramses tidak memilikinya, meski Aisyah berstatus sebagai istri penguasa Mesir itu. Setelah ditinggal mati oleh istri pertamanya, Sang Firaun merasa kesepian dan menghendaki seorang istri. 

    Ramses lalu mengutus seorang menteri bernama Haman untuk meminang Aisyah  Namun, Aisyah menolaknya. Dia tidak peduli seberapa banyak emas yang disimpan oleh Ramses, juga berapa luas wilayah yang dikuasainya. 

    Satu hal yang dia pedulikan adalah seberapa besar keimanan seseorang kepada Allah. Namun, jelas Sang Firaun yang mengangkat dirinya sendiri sebagai Tuhan tak memiliki kualitas itu. “Bagaimana saya sudi menikahi Firaun? Sedangkan, dia terkenal sebagai raja yang ingkar kepada Allah,” ujarnya.

    Sang utusan menyampaikan kabar tersebut kepada Ramses. Firaun marah dan mengutus tentara untuk menangkap orang tua Aisyah  Mereka disiksa dan dikurung. Firaun melakukan hal tersebut untuk mengancam Aisyah. 

    Bila Aisyah tak mau dinikahi, Ramses berjanji akan membakar hidup-hidup kedua orang tua Aisyah tepat di hadapannya. Ancaman itu membuat Aisyah luluh. Dia sadar tidak akan mampu melihat orang tuanya menderita.

    Aisyah lalu menerima pinangan tersebut, namun dengan sejumlah syarat. Syarat tersebut adalah membebaskan orang tuanya dan memberikan mereka rumah yang indah serta menjamin kesejahteraan kedua orang tuanya. 

    Aisyah pun menolak untuk tidur bersama sang firaun. Bila permintaan tersebut tidak dikabulkan, Aisyah rela mati dengan kedua orang tuanya. Firaun akhirnya luluh dan menyetujui semua prasyarat itu.

    Sebagai istri Firaun, Aisyah tentu mendapatkan segala kemewahan. Namun, hal tersebut tidak membutakan hatinya. 

    Aisyah tetap menjadi manusia yang selalu percaya pada Allah sebagai Tuhannya. Dia pun selalu berdoa pada Allah agar selalu dijaga kehormatannya. 

    Atas permintaan tersebut, Allah menciptakan jin yang selalu menyaru sebagai Siti Aisyah. Dialah iblis yang setiap malam tidur dan melayani Firaun di atas ranjang.

    Pelajaran Masyitoh
    Di istana Firaun pula, Aisyah mengenal seorang pelayan istana bernama Masyitoh. Aisyah juga mengenalnya sebagai seorang hamba yang juga taat pada Allah. Namun, kenyataan tersebut tak diketahui oleh Firaun. 

    Kemalangan demi kemalangan menimpa Masyitoh dan membuat Aisyah sangat sedih atas diri perempuan tersebut. Suaminya, Hazaqil, dihukum mati karena telah menetang keras hukuman yang diberikan Firaun ke pada seorang ahli sihir yang menyatakan keimanannya kepada Allah dan ajaran Musa. 

    Hazaqil mengembuskan nafas terakhir dalam keadaan tangan terikat pada pohon kurma dengan tubuh penuh ditembusi anak panah.

    Masyitoh juga harus kehilangan anak-anaknya ketika Firaun akhirnya tahu bahwa perempuan saleh itu juga merupakan pengikut ajaran Musa, seorang nabi dari Bani Israil yang dulu pernah diangkatnya sebagai anak. 

    Pada suatu hari, ketika Masyitoh sedang menyisir rambut putri Firaun, tanpa sengaja sisirnya terjatuh ke lantai. Tak sengaja pula, saat memungutnya, Masyitoh berkata, “Dengan nama Allah, binasalah Firaun.” 

    Mendengar ucapan tersebut, putri Firaun melaporkan hal tersebut kepada ayahandanya. Firaun kemudian memaksa Masyithoh untuk mengakui ketuhanannya. 

    Namun, Masyitoh tak mau melakukannya. “Tiada Tuhan selain Allah,” jawab Masyitoh lantang. Lalu, tanpa belas kasihan, pengawal Firaun melemparkan satu per satu anak Masyithoh ke dalam api. Hati Aisyah semakin teriris tatkala giliran anak terkecil.


    Dari : ROL


    0 komentar:

    Posting Komentar