:
  • SELALU TERCEPAT DAN SELALU MEMAHAMI

    SELECT YOUR LANGUAGE


    Powered By Google Translate

    Menelisik Penulis Sufi Klasik : Attar Al-Nisaburi ! [2]


    ilustrasi : Attar Al-Nisaburi
    Tradisi-tradisi sufisme menegaskan bahwa karya Attar sangat penting karena, membaca secara keseluruhan, membantu menegakkan struktur sosial dan standar etika Islam.

    Sementara seleksi-seleksi khususnya mengandung materi inisiator yang tersembunyi oleh bagian-bagian teologikal yang berat.

    Kutipan karya Attar:
        Ditawari Derma Yang Tidak Dapat Diterima
        Apa! Akan kau berikan sejumlah uang

        (Yang akan) menghapus namaku dari Daftar Kaum Darwis?
    Dongeng Fazl-Rabbi
    Suatu hari seorang tua yang kikir pergi menjeguk Fazl-Rabbi, untuk membahas beberapa hal.
    Karena lemah dan gelisah, orang tua ini menusukkan tongkat besinya ke luka di kaki Fazl-Rabbi.

    Mendengar dengan sopan, apa pun yang dikatakan oleh si orang tua, Fazl-Rabbi tidak berkata-kata, kendati ia menjadi pucat dan kemudian memerah, karena lukanya terasa sakit dan besi tersebut tetap menancap di kakinya.

    Kemudian, ketika yang lainnya telah menyelesaikan urusannya, ia mengambil selembar kertas darinya dan menandatanganinya.

    Ketika orang tua itu sudah pergi, ia senang karena berhasil dalam ketekunannya, Fazl-Rabbi membiarkan dirinya roboh.
    Salah seorang bangsawan yang hadir mengatakan:

    "Tuanku, Anda duduk di sana dengan darah mengucur dari kaki Anda, dan orang tua itu menusuknya dengan tongkat besinya, dan Anda sama sekali tidak berkata apa pun."
    Fazl-Rabbi menjawab:
    "Aku sama sekali tidak memberi tanda kesakitan, karena Aku takut kalau ketakutannya mungkin menyebabkan ia bingung, dan bahwa ia mungkin menyerahkan ketekunannya karena bantuanku. Kasihan sekali dia, bagaimana aku dapat menambah masalahnya dengan cara demikian?"
    Jadilah manusia sejati: mempelajari kebangsawanan dari pemikiran dan tindakan, seperti Fazl-Rabbi.
    Budak Tanpa Majikan
    Berkelana dengan jubah tambalan, wajahnya menghitam karena matahari, seorang darwis tiba di Kufah, di mana ia berjumpa dengan seorang pedagang.
    Si pedagang berbicara kepadanya, dan memutuskan bahwa ia pasti seorang budak yang tersesat.

    "Karena tindak-tandukmu halus, Aku akan memanggilmu Khair (bagus)." Katanya, "Engkau bukan budak?"

    "Itulah saya," jawab Khair.

    "Akan kuantar engkau pulang, dan engkau dapat bekerja untukku sampai berjumpa tuanmu."
    "Saya senang sekali," ujar Khair, "Karena sudah sangat lama saya mencari tuan saya."
    Ia bekerja beberapa tahun pada orang tersebut, yang mengajarinya menjadi penenun; oleh sebab itu nama keduanya adalah Nassaj (penenun).
    Setelah layanannya yang lama, merasa bersalah karena terlalu mengeksploitasinya, pedagang tersebut mengatakan, "Aku tidak tahu siapa dirimu, tetapi sekarang engkau bebas untuk pergi."
    Khair Nassaj, Guru Agung Tarekat (sufi), melanjutkan perjalanannya ke Makkah tanpa penyesalan karena ia telah menemukan bagaimana melanjutkan perkembangannya, daripada tanpa memiliki nama dan diperlakukan seperti budak.
    Ia adalah guru asy-Syibli, Ibrahim Khawwas dan juga Guru Agung kaum Sufi. Ia meninggal lebih dari seribu tahun yang lalu, di usia seratus duapuluh.

    Sumber : Jalan Sufi : Reportase Dunia Ma'rifat oleh Idries Shah


    0 komentar:

    Posting Komentar