:
  • SELALU TERCEPAT DAN SELALU MEMAHAMI

    SELECT YOUR LANGUAGE


    Powered By Google Translate

    Menapaki Cahaya Islam di Negeri Samurai Jepang ! [2 / Selesai]


    Seorang Muslim saat beribadah di salah satu masjid di Kota Tokyo, Jepang.


    Pendirian masjid
    Kian banyaknya komunitas Muslim membuat kebutuhan akan tempat ibadah kian meningkat. Tak heran, jika kemudian berdiri sejumlah masjid. Masjid pertama berdiri di Kobe pada 1935. 

    Tiga tahun kemudian, dibangun sebuah masjid di Tokyo. Saat ini, terdapat sekitar 40 masjid di seluruh Jepang. Di negara ini, masjid memiliki beberapa fungsi. 

    Selain untuk shalat berjamaah, juga menjadi tempat untuk melaksanakan aktivitas keagamaan, sosial, bahkan tempat untuk membahas masalah perekonomian. 

    Tidak banyak orang Jepang yang menjadi imam masjid, kecuali Syekh Ibrahim Sawada, yang menjadi imam pada Ahlulbayt Islamic Centre di Tokyo.

    Lembaga-lembaga Islam juga dibentuk untuk memperluas kerja sama antara kaum Muslim dan penduduk Jepang. Kerjasama yang dijalin antara lain dalam bentuk pengadaan buku-buku agama dan pengenalan kebudayaan Islam.

    Pengadaan buku-buku agama menjadi sangat penting mengingat hingga saat ini literatur Islam yang diterjemahkan dalam bahasa Jepang belum banyak. Hal ini menjadi kendala utama penyebaran agama Islam di Jepang. 

    Imam Ahlulbayt Islamic Centre Tokyo, Syekh Ibrahim Sawada.

    Sulitnya Berdakwah di Jepang
    Saat ini, dakwah Islam terus dikembangkan di Jepang. Namun, ini bukan perkara gampang karena jumlah pendakwah di  sana sangat sedikit. 

    Padahal, populasi Jepang mencapai 127 juta orang atau menempati posisi kesepuluh dalam daftar negara dengan populasi terbanyak di dunia.

    Selain itu, para pendakwah kebanyakan berdomisili di kota-kota besar, seperti Hiroshima, Kyoto, Nagoya, Osaka, dan Tokyo, sehingga tidak merata ke seluruh Negara Matahari Terbit tersebut. Kendala bahasa dan budaya juga menjadi halangan bagi penetrasi Islam di Jepang.

    Citra Islam di mata penduduk Jepang juga tidak begitu baik. Kebanyakan dari mereka termakan oleh informasi-informasi miring tentang Islam yang kerap diembuskan media-media Barat. 

    Sementara, literatur-literatur keislaman tak mudah ditemukan di Jepang, terutama yang telah diterjemahkan dalam bahasa ibu mereka. Alquran dalam bahasa Jepang tak mudah didapati. Hampir tak ada buku sastra Islam yang terpajang di toko-toko buku atau perpustakaan-perpustakaan umum. 

    Dan, yang ada hanyalah beberapa esai dan buku dalam bahasa Inggris tentang Islam. Itu pun dijual dengan harga yang lumayan mahal sehingga jarang orang Jepang yang mau membeli. Akibatnya, orang Jepang hanya mengenal Islam dari beberapa istilah, seperti poligami, Sunni, Syiah, Ramadhan, haji, Nabi Muhammad, dan Allah.

    Sejumlah organisasi Islam di Jepang berusaha mengatasi masalah itu. Asosiasi Muslim Jepang, misalnya, sangat berharap bisa meningkatkan jumlah Muslim di negara itu. 

    Presiden Asosiasi Muslim Jepang, Amin K Tokumasu, menyatakan pihaknya terus berupaya menyebarkan Islam. Organisasi ini ingin lebih banyak orang Jepang mendapatkan informasi mengenai Islam. Asosiasi Muslim Jepang juga menginginkan didirikannya sebuah pusat kebudayaan di dekat Masjid Tokyo.

    Persatuan Muslim Jepang yang dibentuk pada 1953 juga berusaha mewujudkan cita-cita yang sama. Organisasi ini menerjemahkan Alquran ke dalam bahasa Jepang dan mengaktifkan kegiatan komunitas Muslim. Hal ini diharapkan dapat menarik minat penduduk Jepang untuk mempelajari Islam.

    Sumber : ROL


    0 komentar:

    Posting Komentar