:
  • SELALU TERCEPAT DAN SELALU MEMAHAMI

    SELECT YOUR LANGUAGE


    Powered By Google Translate

    Batik Motif Mega Mendung, Banyak Disalah Artikan Oleh Warga Cirebon !


    Batik motif mega mendung terdapat sebuah sejarah dalam pengembangan ajaran Islam yang sangat kental, seperti halnya gradiasi kesembilan adalah ajaran Wali Songo. 

    Namun, batik mega mendung banyak di salah artikan oleh masyarakat Cirebon. Seperti diungkapkan Masnedi Masina, pengrajin batik Cirebonan di Hotel Gran Pacific Bandung saat menghadiri “Diskusi Ekonomi Kreatif” yang diselenggarakan Kepala Perwakilan (KPW) BI Cirebon, Kamis (6/12/2012).

    “Kita melihat sejarah batik sejak abad ke 16. Batik di Cirebon yang digunakan hanya dua moif, yakni motif pesisiran dan motif pedalaman. Namun, pada waktu itu motif pedalaman hanya digunakan oleh pihak keraton. 

    Sehingga motif tersebut yang memakai hanya keluarga keraton saja,” ujarnya. Padahal, kini batik motif pesisiran itu banyak disukai oleh masyarakat luas. Yakni, batik pesisiran motif mega mendung. Dia pun lagi-lagi sangat menyayangkan. 

    Pasalnya, motif mega mendung itu sangat kental dengan ajaran Islam. “Dengan sembilan warna itu menandakan ajaran Wali Songo, tetapi motif mega mendung banyak di salah artikan oleh masyarakat,” tandasnya.

    Padahal, menurut Masina, motif mega mendung itu menandakan Islam, tetapi motif tersebut banyak digunakan untuk sandal dan keset. Ini sudah melecehkan keaslian ajaran Wali Songgo. “Kami harapkan khusus motif mega mendung tidak dihimbau sandal dan keset,” tegasnya. Selain motif mega mendung, ada motif taman teratai. 

    Tapi sejak abad 16, kini sudah punah. Sehingga, motif batik yang punah tersebut harus dikembangkan lagi, karena motif tersebut sudah merambah hingga ke masyarakat kecil,” paparnya.


    Sumber : Lensa Indonesia


    0 komentar:

    Posting Komentar